Di kelingking yang gemetar
Kau wasiatkan janji
pada rembulan yang memudar
Kabut putih dan halilintar yang mengakar
Sendiri bersahutan dengan hati dalam lingkar malam. Begitu banyak bahasa yg terpendam tak terjabarkan, semua tulisan indah ini adalah tentangmu. tentang keindahan garis warna yg kusebut bunga dan pelangi jingga
Jumat, 19 Juli 2013
Janji
Rabu, 17 Juli 2013
Aku tak pantas untukmu
Apa harus aku seperti hujan?
Mendatangimu lalu hilang terhalang pelangi
Atau seperti senja?
Datang lalu musnah diterpa malam
kau tak bisa kumiliki sayang
dirimu adalah sebutir mutiara
sedangkan aku seekor kerang yang hina
Jumat, 12 Juli 2013
Tak ada yang semanis senyummu
Malam terlalu indah untuk membuat seribu puisi
Disaat senyummu kutuang dalam goresan tinta disenja ini
Untuk seseorang
Telah kutulis beribu larik tentang musim
Kata-kata yan tak pernah libur
Bagai puisi abad lelap terkubur
Bayangan semu
Disudut senja
Di bayang sang waktu
Senyummu berdiri angkuh diantara rinduku
Manis tapi pahit
Kusadari ragamu tak disini
Penantian
Pada ruang disisi jendela
Langit telah kusam warnanya
Karna menerjemahkan huruf-huruf diantara puing-puing warna jingga yang telah hilang menanti malam
Namun kau masih menunggu sayang'
Mungkin cintamu telah abadi
Sedalam lautan di samudera biru
Cerita yang patah
Aku dan kamu adalah sepotong episode yang tak sempurna
Tak menyisakan apa-apa
Selain tersusun samar
Kisah sketsa yang patah
Kau tak sendiri sayang
Untuk kesendirianmu
Tuhan hadirkan. Rembulan dan bintang gemintang. Dirembang malam
Apalagi yang kau khawatirkan?
Aku lelaki pengecut
Sisa pecahan kaca di kelopa mata
Sisa duri di sela-sela ujung kuku
Mengagumimu. Lebih pedih dari itu
Sajak untuk kekasih
Ingatlah kekasih !
Suatu kala benciku akan lebih sunyi dari kertap daun gugur dari rantingnya
Dan detak jantung pada malam-malam hening
Aku
Aku bukan pujangga
juga bukan pengembara cinta
hanya seniman kata-kata
Dan pikiranku ialah puisi yang tak pernah puasa menuliskanmu
Lelaki tua
Di sebuah gubuk ketika senja
Lelaki tua itu memesan dua cangkir kopi
Satu untuk dia dan satu untuk kesendiriannya
Senja di jalan itu
Pernah di perempatan
Diantara sombongnya kalakson-klakson yang menggerutu
Aku menemukan sajak paling sunyi
Pada kaleng pengamen itu
Rindu abadi
Aku adalah sunyi dan kau adalah duka
Kita menghasilkan sebuah kenangan
sepi, sunyi, dan puisi tentangmu membawaku kedalam labirin kerinduan yang panjang
Hitamnya sepi
Kawan, kopi yang kau aduk tanpa gula itu bernama sepi
Siang yang sunyi
Tak lebih pahit dari tegukan pertama
Bidadari berduri
Sampai saat ini
Aku belum bisa menemukan kata sastra yang bisa mendeskripsikan manisnya wajahmu
Meskipun kuselam pekatnya lautan
Ku hadang gelapnya malam
Dan ku hancurkan kerasnya bebatuan
Kau masih menyiksaku dalam diam
Gelora rindu
Di wangi harum rambutmu
Ingin kusisir helai demi helai kenangan lalu
Dan kusematkan pita ungu bertabur rindu
Membisu
Kuhentikan lidah bicara
Kubiarkan hening berbahasa sunyi semesta
Kupersilahkan cinta bersembunyi dari kata-kata