Jumat, 08 Februari 2013

cerita pohon

Senja masih enggan jua tiba
Tapi langkahku masih mendayu, berpijak pada rumpun ilalang gersang
Lampu pijar seakan hantarkan pesan lisan pada bongkahan karang terjal
Laju angin pada tepian karang masih tetap berbisik pada pohon tua yang menua
Ya, pohonku tak lagi muda
Daun yang berguguran barangkali menandakan kepergian seorang belia
Ia tak lagi enggan bersama pohon tuanya
Kelak juga diriku, yang enggan bermain seperti kemarin lagi bersama pohon tuaku
Aku hanya ingin bercerita tentang pohon yang masih muram, juga tentang dirimu yang telah lupa dengan mata kenarimu sendiri
Dahulu pohon itu memang pohon biasa seperti layaknya pohon
Mungkin, kecintaan kitalah yang membedakannya dengan pohon-pohon lain
Tapi kini, pohon kita telah rumpang dijilat waktu
Atau mungkin  telah remuk dililit akarnya sendiri
Saat pohon kita sudah mulai melapuk; kenapa tidak kau robohkan saja dengan kapak dua matamu itu?
Agar tidak ada lagi cerita bersama pohon tua yang menua
Sekarang, aku tak dapat lagi bermain bersama pohon tuaku
Sebab  ia telah bermuram menunggu cerita dari sulur hujan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar