Senja
masih enggan jua tiba
Tapi
langkahku masih mendayu, berpijak pada rumpun ilalang gersang
Lampu
pijar seakan hantarkan pesan lisan pada bongkahan karang terjal
Laju
angin pada tepian karang masih tetap berbisik pada pohon tua yang menua
Ya,
pohonku tak lagi muda
Daun
yang berguguran barangkali menandakan kepergian seorang belia
Ia
tak lagi enggan bersama pohon tuanya
Kelak
juga diriku, yang enggan bermain seperti kemarin lagi bersama pohon tuaku
Aku
hanya ingin bercerita tentang pohon yang masih muram, juga tentang dirimu yang
telah lupa dengan mata kenarimu sendiri
Dahulu
pohon itu memang pohon biasa seperti layaknya pohon
Mungkin,
kecintaan kitalah yang membedakannya dengan pohon-pohon lain
Tapi
kini, pohon kita telah rumpang dijilat waktu
Atau
mungkin telah remuk dililit akarnya
sendiri
Saat
pohon kita sudah mulai melapuk; kenapa tidak kau robohkan saja dengan kapak dua
matamu itu?
Agar
tidak ada lagi cerita bersama pohon tua yang menua
Sekarang,
aku tak dapat lagi bermain bersama pohon tuaku
Sebab ia telah bermuram menunggu cerita dari sulur
hujan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar