Tentang sepotong senja, kau, aku, dan kenangan
tentang setapak jalan berdebu
di belantara sepi sebuah perjalanan luka
Masih tersisa sepotong cahaya rembulan
menempel di lembar daun jati, bertuliskan sebait puisi
yang lahir dari kota sepi ini
Lalu senja menyajakkan kesepian,
tentang rindu yang hitam serupa burung-burung malam
yang mematuk lemah sinar rembulan
Lalu kita kayuh perahu kayu yang telah rapuh,
menelusuri tepi senja pada sebuah telaga
yang behiaskan pelangi dan hamparan bunga
Di pinggir pilar ia bersinar sepi
Mengejar waktu yang tak pernah berhenti.
Di temaram senja telah kulukiskan.
Sebuah getar yang berwana jingga.
Di saat putaran roda menjelang tiba.
saat senja berhias mendung yang tak bermakna
medan . februari 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar